Saturday, February 22, 2014

Maaf (Part 2)

Selalu ada luka di setiap kata maaf. Ia meruahkan apa yang telah tertata rapi, membuka yang telah tertutup dan melukai luka yang telah perlahan mengering. Menyibak apa saja yang telah terjadi padahal baru saja terlupakan. Sedari itu saya selalu tidak menyukai kata maaf.

Maaf menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru mengenai masa lalu. Mengapa hal ini terjadi, dan hal yang itu tidak terjadi. Padahal biarkan saja semua berlalu. Tak perlu kata-kata, jika bisa, simpan saja maafmu dalam perilakumu.

Saya selalu berusaha agar tak berlelah-lelah marah. Karena bagi saya marah adalah menuntut sesuatu yang berarti, juga menanti maaf. Tapi bukan itu. Andai saja kau tahu bagaimana caraku mencintai diriku sendiri. Andai saya bisa menjelaskannya.

Apa-apa yang pernah terjadi tak perlu kau sesali. Sekali lagi, tak perlu maaf. Hanya pergi saja.

Saturday, January 12, 2013

Lantai-lantai Keyakinan

Mengapa kau pernah yakin pada suatu hal yang sebetulnya tidak pernah kau tau apa hal itu sebenarnya? Seperti ketika kau meyakini cinta yang kau genggam adalah benar milikmu selamanya? Karena rasa? Atau lebih rumit dari itu, sampai kau tak bisa menerjemahkannya?

Padamu, ingin kusampaikan kisah ini.

Jika dalam drama, saya ada dalam dua peran. Antagonis dan protagonis. Pada suatu ketika saya melawan segala gerak maju untuk mengangkasakan ego dan kadang saya hanyut dalam aliran sungai cerita hingga tenggelam dan bermuaravpada tempat yang tidak saya kenal. Bukankan itulah anti dan pro? Semua berlawanan.

Semua tampak membingungkan saya. Tampak sah saja saya lakukan untuk merebut sesuatu yang saya yakini. Bahkan saya sendiri tidak tau kebenaran yang saya yakini. Sampai pada hari yakin itu saya genggam, dengan berharap semua itu indah, karena yang saya lihat adalah indah.

Pernahkan saya peduli pada apa yang saya genggam hingga saya pernah ragu? Tidak pernah. Namun pada suatu ketika, saya peduli pada yang saya injak. Saya mulai ragu. Pada sebuah dasar lunak yang selalu berhasil menopang saya. Apakah itu akan selamanya dapat menopang? Bahkan pada kerasnya mamer saya bisa terjatuh. Luka, atau paling tidak memar.

Di awal keraguan pada apa yang saya genggam, dengan egoisnya akan saya genggam yakin itu. Tak peduli semua yang mencemooh saya. Saya berdoa dalam hujan, dalam fajar, senja dan dalam pekat malam, agar benar apa kira saya pada yakin itu. Bodoh? Mungkin!

Saya tak takut salah. Saya tak takut terluka. Saya tak takut apapun. Saya menikmati yakin ini. Meski hanya dua malam, dua jam atau dua detik sekalipun. Dalam doa di waktu-waktu yang lain, saya meminta agar ini bisa bertahan agak lama meskipun ternyata apa yang saya yakini adalah salah.

Yakin ini terlalu indah untuk saya yakini.

-
-
-
-

Sunday, April 5, 2009

Lahir di Jogja tepatnya di RSUD Muhammadiyah tanggal 20 Juli 90. Terakhir tinggal Bandung dan smuga papap saya tak dipindah kerja lagi. Sebelumnya saya pernah di Makassar, Manado, dan Jogja.

Kata orang nama saya unik. Alesannya karena jarang orang punya nama kaya saya. Sampe ada beberapa dosen yang marah karna dikira nama saya sok dikeren2in gitu. *hadu bu, udah gga jaman kali bu* Nama saya bisa kaya gini akibat ulah kreatif papap saya yang udah keabisan ide buat kasi nama buat anak sulungnya ini. Dan terciptalah nama 'Tenthree' yang artinya sepuluh-tiga. Dan punya maksud terlahir sebagai cucu kesepuluh *dari nenek pihak ibu* dan cucu ketiga *dari nenek pihak papap*. Halah! Ribet banget ya?

Saya terdaftar sebagai Mahasiswa Psikologi UPI Bandung angkatan 2008. Dan kini masih sibuk buat jadi orang berguna buat orang2 terdekat.

Saya melabel diri saya sebagai manusia bertipe kepribadian Sanguinis, yang berarti saya adalah manusia periang, gampang bergaul, dan luwes. *menurut bukunya sih gitu* X))

Bukan cewe doyan party, karna saya benar2 anak pingitan. Sedikit pulang melenceng dari waktunya bisa2 saya kena jitak ibu negara :P Bukan juga cewe doyan dandan, ibu negara suka gemes kalo saya ke kampus sering tanpa polesan bedak sama sekali. wateper lah!!