Selalu ada luka di setiap kata maaf. Ia meruahkan apa yang telah tertata rapi, membuka yang telah tertutup dan melukai luka yang telah perlahan mengering. Menyibak apa saja yang telah terjadi padahal baru saja terlupakan. Sedari itu saya selalu tidak menyukai kata maaf.
Maaf menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru mengenai masa lalu. Mengapa hal ini terjadi, dan hal yang itu tidak terjadi. Padahal biarkan saja semua berlalu. Tak perlu kata-kata, jika bisa, simpan saja maafmu dalam perilakumu.
Saya selalu berusaha agar tak berlelah-lelah marah. Karena bagi saya marah adalah menuntut sesuatu yang berarti, juga menanti maaf. Tapi bukan itu. Andai saja kau tahu bagaimana caraku mencintai diriku sendiri. Andai saya bisa menjelaskannya.
Apa-apa yang pernah terjadi tak perlu kau sesali. Sekali lagi, tak perlu maaf. Hanya pergi saja.
Maaf menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru mengenai masa lalu. Mengapa hal ini terjadi, dan hal yang itu tidak terjadi. Padahal biarkan saja semua berlalu. Tak perlu kata-kata, jika bisa, simpan saja maafmu dalam perilakumu.
Saya selalu berusaha agar tak berlelah-lelah marah. Karena bagi saya marah adalah menuntut sesuatu yang berarti, juga menanti maaf. Tapi bukan itu. Andai saja kau tahu bagaimana caraku mencintai diriku sendiri. Andai saya bisa menjelaskannya.
Apa-apa yang pernah terjadi tak perlu kau sesali. Sekali lagi, tak perlu maaf. Hanya pergi saja.
No comments:
Post a Comment